kau adalah manifestasi yang nyata dari sebuah fatamorgana.
ah...
ternyata begini rasanya,
patah hati bahkan sebelum aku mengungkapkannya.
"tidak seburuk perkiraan"
karena yang dirasakan jauh lebih pahit dari sekedar bayangan.
baru kali ini aku patahati
pada onggak rasa yang terbungkus rapi
aku patah hati.
demikian sudah semuanya.
aku akan pulang dengan nyaman.
dalam perjalanan melupakan.
aku tak perlu lagi mengingat senyuman,
aku hanya perlu mengingat yang orang lihat, bukan yang aku lihat.
kau memang perwujudan nyata sebuah fatamorgana.
aku hanya seorang perempuan kecil,
yang memandangi cara bicaramu,
yang memandangi cara bola batamu bersinar,
bagai mana kelopak matamu seirama dengan lentikan bulu matamu berkedip.
aku hanya seorang perempuan kecil,
yang gemar mendengarkan tawamu,
mendengarkan setiap suara yang mengguar dari tubuhmu.
begitupun petikan gitar dari jari-jarimu.
deru nafasku berbisik.
"aku menyayangimu"
isak tangisku pecah,
harus mulai ku balikan punggunggu.
pergi.
jangan khawatir.
aku akan meninggalkan hatiku disini.
dan tidak akan kulihat lagi.
mulai hari ini,
aku putuskan untuk memandangmu,
seperti cara manusia lain memandangmu.
kau adalah manifestasi yang nyata dari sebuah fatamorgana.
ternyata begini rasanya,
patah hati bahkan sebelum aku mengungkapkannya.
"tidak seburuk perkiraan"
karena yang dirasakan jauh lebih pahit dari sekedar bayangan.
baru kali ini aku patahati
pada onggak rasa yang terbungkus rapi
aku patah hati.
demikian sudah semuanya.
aku akan pulang dengan nyaman.
dalam perjalanan melupakan.
aku tak perlu lagi mengingat senyuman,
aku hanya perlu mengingat yang orang lihat, bukan yang aku lihat.
kau memang perwujudan nyata sebuah fatamorgana.
aku hanya seorang perempuan kecil,
yang memandangi cara bicaramu,
yang memandangi cara bola batamu bersinar,
bagai mana kelopak matamu seirama dengan lentikan bulu matamu berkedip.
aku hanya seorang perempuan kecil,
yang gemar mendengarkan tawamu,
mendengarkan setiap suara yang mengguar dari tubuhmu.
begitupun petikan gitar dari jari-jarimu.
deru nafasku berbisik.
"aku menyayangimu"
isak tangisku pecah,
harus mulai ku balikan punggunggu.
pergi.
jangan khawatir.
aku akan meninggalkan hatiku disini.
dan tidak akan kulihat lagi.
mulai hari ini,
aku putuskan untuk memandangmu,
seperti cara manusia lain memandangmu.
kau adalah manifestasi yang nyata dari sebuah fatamorgana.

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah berkunjung. Silahkan tinggalkan jejakmu disini.