Tentang bahagia yang ku pertanyakan setengah mati.


Apa itu bahagia? apakah wujud dari segala bentuk ke irian orang lain yang berkumpul pada apa yang kau punya, pada apa yang kau tampilkan pada dunia. Atau bentuk dari tawa lebar yang kau pamerkan, atau pula hedonisme yang kau kejar mati-matian agar beada dipuncak dunia atau agar dunia berputar disekelilingmu?. Keduanya tak ada bedanya.
Ku pikir tidak, selama ini kucari kemana-mana, menjadikannya tujuan utama untuk lepas dari lara yang berlari mengejar setiap jiwa sampai ke lubang semut agar segera bertemu dengan bahagia. Benarkah semua itu yang kita inginkan?. Bahagaia atau terlihat bahagia.
Mari kita lihat apa arti sesungguhnya dari bahagia itu, mengapa kita sibuk mencarinya, kita sibuk memamerkannya. Itukah kebahagiaan yang kau cari?.
Baru ku sadari beberapa menit yang lalu, saat kepalaku menunduk memandangi satu demi satu tawa yang terpancar dari mata-mata berbulu mata lentik, dari bibir-bibir tipis yang dipoles manis warna-warna menyerupai cat pada tembok-tembok berdinding yang menjulang tinggi. Cantik, mewah, menawan, bahagia. Bahagia? Benarkah? Lantas mengapa seolah kedua mata kecilku ini tak menemukan korelasi dan kolaborasi dari sinar mata dan senyuman itu. Seolah mereka bergerak sendiri-sendiri hanya untuk terlihat elok dalam photograph namun jiwanya dimana?, lupa di bawa kah? Atau tertinggal di pojok kamarnya yang sempit gelap dan pengap?.
“Jadi untuk apa sebenarnya?.”
Yang ku inginkan bukan yang seperti itu, bukan yang tampak rupawan dan menawan namun tak berjiwa. Kebahagiaan yang kucari ternyata adalah sebuah kedamaian hati. Ingin tawa dan senyuman yang mampu mengisikan syukur akan kedamaian yang kian menyejukan dan menggetarkan hati. Bukan seperti cinta palsu yang di pamerkan, bukan senyuman cantik yang dipadukan bulu mata lentik, atau tertawa bersama saat berphoto lantas setelahnya kembali pada kenyataan dan saling membisu.
Setuju atau tidak, kebahagian menurutku itu perkara hati, perkara seberapa haru dan syukurmu membuncah pada Tuhan saking bahagianya. Sampai senyum tak mampu menggambarkan betapa bahagianya engkau, sampai tangis lah yang harus mengambil alih peran sang tawa. Kebahagian sejati yang baru-baru ini ku sadari adalah perwujudan sempurna dari rasa syukur yang melahirkan ketentraman, ketenangan, kehangatan, kenyamana, keringanan, hilangnya ke khawatiran pada hati. Dan semua itu berawal dari syukur.
Oh sungguh betapa sempurnanya Tuhan tanpa ada tandingan. Ia menciptakan sesuatu yang sangat sederhana bernama syukur yang mampu menghapus dan mengalahkan perkasanya matahari terik di tengah hari yang sering disimbolkan bagi para penguasa yang memliliki segala di dunia. Tidak bisa kita menemukan bahagia bila Tuhan tak memberikannya, dengan syukur ia akan memberikannya dengan mutlak.
Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam.
Diamlah aku sedang menyadarkan dan menasihati diri sendiri.

Komentar

Postingan Populer