Kemarilah Sayang
Kemarilah sayang, duduk sini di sampingku. Akan ku
genggam dan ku usap lembut punggung tanganmu yang lelah bertarung dengan dunia
seharian penuh. Jangan khawtir, aku akan selalu menjadi rumah tempat kau
kembali, merebahkan tubuh lelah, tempat kau makan enak, tempat pijat
refleksimu, tempat kau mengisi ulang semangat, cinta dan ponselmu. Aku juga
akan menjadi bank penyimpanan untukmu, untuk hartamu ataupun untuk amalmu,
untuk segala ambisimu. Aku juga tempat kau bermanja-manja.
Kadang-kadang kita bahkan tidak perlu saling bicara, berdiam
dalam keheninganpun kita bisa saling merasa ada, seolah saling bercerita
tentang segala dunia. Dalam bisu kedap suara yang tercipta diantara kepulan teh
manis hangat dan teh pait panas.
Sayang, aku tidak meminta jadi satu-satunya sebagai
pertimbanganmu. Namun ingin ku pastikan aku adalah hal pertama yang kau ingat
kala segalanya terjadi padamu.
Ya segalanya. Segalanya. Aku tak perlu jadi satu-satunya,
tapi aku adalah segalanya. Hingga kau berpikir hanya cukup aku. Aku kekasihmu,
aku adalah temanmu, juga rekan kerjamu, teman diskusi, teman bepergian, teman
di panas dan juga hujan, teman di pajar dan senja. Aku akan jadi apapun yang dibutuhkan
saat itu. Bahkan saat ini, aku ingin sekali mengelus punggungmu dan membisikan “terimakasih,
hari ini pun kau sudah berusaha untuk kita. Beristirahatlah sayang, aku disini,
akan disini pula saat kau membuka mata”
Bila para netizen yang katanya maha benar itu bergerombol
berkomen bahwa aku seperti bucin-bucin pengkonsumsi micin. Akan kujawab, Oh aku
bukan budak cinta, diusia ini bagiku cinta hanya sebuah europia belaka. Bukankah
menyediakan dan menyenangkan kekasih adalah suatu ibadah di mata Tuhanku?. Lantas
kenapa memangnya?, kalau akau bahagia memangnya kau mau apa?. Tuduhanmu bahkan
tidak bisa dibuktikan ke absahannya. Aku hanya akan mengikuti apa yang bisa
membuatku bahagia itu saja ku pikir cukup. Aku tidak akan mendengarkanmu yang
entah siapa, aku hanya akan mendengarkan Tuhanku yang jelas-jelas menjamin
kebahagiaan.
Lantas hei kau sayang, mau duduk bersama disini?. Dengan secangkir
kopi dan perbincangan?. Bila kau bilang “tak bisa romantis, dan berkata-kata”,
tenang saja. Biar ku ambil alih tugas menggombalimu. Tidak ada hukum yang
mengatur bahwa gombal adalah hak paten milik para laki-laki untuk para perempuan
bukan?. Jadi jangan khawatir. Kau bisa terus mencoba menggodaku dengan candaan
anehmu. Ya aneh, karena biasa saja ~bahkan terkesan basa-basi saja~ namun selalu
bisa membuatku tersipu merona.
Sialan bukan?.
Terlalu sering sekali aku mengatakannya bukan?.
Tapi memang ya, sialan.
Aku malu untuk berbicara seperti ini, maluku setengah
mati. Namun bagai mana lagi, aku tak bisa menghentikan isi kepalaku yang
berbicara terus menerus hingga aku masih terjaga di tengah malam seperti ini.
Mimpiku memang tinggi, lebih tinggi dari gunung. Mimpiku memang
sangat luas, lebih luas dari samudra hindia. Namun bila kuringkas, kubuat
sederhana ternyata aku hanya ingin bahagia. Tidak sulit dan tidak mahal. Namun salah
satu caranya itu dengan duduk denganmu.


Komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah berkunjung. Silahkan tinggalkan jejakmu disini.