Pada Suatu Malam
dalam keremangan kamar
yang lampunya ku padamkan.
mengalun sebuah lagu yang selalu bisa ku nikmati
dari waktu-kewaktu.
"westlife - flying without wings"
berbicara tentang waktu,
waktu banyak memberiku nasihat baik
yang tak ayal sering ku abaikan
hingga si jingga di ujung hari
tersenyum lembut padaku,
seolah berkata dengan lemah lebut bahwa
ia tak akan pernah bisa tergapai
bila selalu ku abaikan sang waktu.
bila suatu saat aku bisa terbang
meski tanpa sayap,
mampukah aku menggapai kasihnya?
kasih yang bahkan mungkin sesungguhnya
tak pernah singgah
apalangi terajut
dalam jangka waktu aku meloloskan hati
agar terjatuh dari ketinggian
maksud hati ingin memeluk gunung,
apa daya tangan tak sampai.
anganku bberpikir
hati yang melompat itu
akan sanggup mendarat dengan aman
dengan bantuan sayap-sayap yang kau iming-imingkan
kenyataan menohok ku,
seolah sang waktu menodongkan pisau tajam
tepat di ulu hati
hatiku mendarat dengan babak belur,
sebelum kemudian di lemparkan balik sang waku,
agar aku tak berlama-lama dalam keterpurukan.
senja jingga yang kini tersenyum lembut di hadapanku,
kembali menariku ke kenyataan bahwa hatiku
kembali dengan selamat.
kembali menghangat
karena terkadang
hangat tidak selalu berisi orang-orang.
hati bisa menghangat pula dengan "syukur"
yang lampunya ku padamkan.
mengalun sebuah lagu yang selalu bisa ku nikmati
dari waktu-kewaktu.
"westlife - flying without wings"
berbicara tentang waktu,
waktu banyak memberiku nasihat baik
yang tak ayal sering ku abaikan
hingga si jingga di ujung hari
tersenyum lembut padaku,
seolah berkata dengan lemah lebut bahwa
ia tak akan pernah bisa tergapai
bila selalu ku abaikan sang waktu.
bila suatu saat aku bisa terbang
meski tanpa sayap,
mampukah aku menggapai kasihnya?
kasih yang bahkan mungkin sesungguhnya
tak pernah singgah
apalangi terajut
dalam jangka waktu aku meloloskan hati
agar terjatuh dari ketinggian
maksud hati ingin memeluk gunung,
apa daya tangan tak sampai.
anganku bberpikir
hati yang melompat itu
akan sanggup mendarat dengan aman
dengan bantuan sayap-sayap yang kau iming-imingkan
kenyataan menohok ku,
seolah sang waktu menodongkan pisau tajam
tepat di ulu hati
hatiku mendarat dengan babak belur,
sebelum kemudian di lemparkan balik sang waku,
agar aku tak berlama-lama dalam keterpurukan.
senja jingga yang kini tersenyum lembut di hadapanku,
kembali menariku ke kenyataan bahwa hatiku
kembali dengan selamat.
kembali menghangat
karena terkadang
hangat tidak selalu berisi orang-orang.
hati bisa menghangat pula dengan "syukur"

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah berkunjung. Silahkan tinggalkan jejakmu disini.