Mawar dan Edelwiese



Bila ia adalah edelwiese yang agung,
Maka kau hanyalah mawar kering.

Edelwiese jauh lebih berharga darimu,
Ia hanya bisa di temukan di ketinggian
Butuh perjuangan, keringat, dan lelah yang membuncah untuk menemuinya.
Setelahnya, aku pun hanya akan menatapnya, atau sekedar berpoto cantik
Namun saat turun, hanya bisa ku lambaikan tangan perpisahan padanya
Berharap berjuampa di lain kesempatan.

Namun kau si mawar kering,
Yang setiap hari berbunga tanpa henti.
Musim hujan, musim kemarau, bahkan di patahkan berkali-kali
Juga tidak disirami, di dekatkan dengan berbagai sampah yang dibuang sembarang.
Kau, kau tetap berbunga dengan konsisten,
Bunga kecil, harum, ranum, dan lebat.
Setiap kubeli buku baru, kupetik kamu
Kuselipkan di celah-celah buku sebagai pembatas bacaku.
Kau si mawar kecil kering yang tiba-tiba berubah cantik
Elok dan indah di sela-sela halaman-halaman dari buku kesukaanku.
Kau pun berubah istimewa,
Biasa saja, namun, berkesan lain.
Kau menyaksikan tangisku disela-sela cerita,
Air mataku mungkin saja turut membasahimu.
Atau kadangkala kau menatap senyum dan tawaku
Yang ku sembunyikan dari berbagai jenis manusia,
dibalik halaman buku tempat tinggalmu.

Komentar

Postingan Populer