Another Plan of Journey.



            Malam ini aku termenung seperti malam-malam sebelumnya. Terduduk dikursi depan sebuah kursusan kecil yang selalu terasa seperti rumah lama bagiku. Berapa kali pun aku pergi, jika berkunjung ke tempat ini, tempat ini tidak akan berubah rasa, ia selalu terasa seperti rumah lain miliku. Berganti-ganti manusia yang singgah dalam beberapa periode tidak menyusutkan rasa manisnya. Dan ia – pemilik tempat ini- adalah tutor sekaligus ayah bagiku, ia menunggu putra-putrinya untuk selalu pulang kerumah. Itulah arti kursusan ini bagiku.

            Setelah sekitar 20 menit aku memandangi sekeliling, hatiku yang entah sedang merasakan apa –mungkin sedih, mungkin rindu, mungkin belenggu, mungkin syukur, atau entahlah- membawaku untuk membuka telepon genggam dan mulai berselancar di media sosial instageam miliku. Dengan lagu-lagi the overtones mengalun cantik di telingaku. Tiba tiba kutemukan sebuah akun yang sudah lama ku ikuti dan juga merupakan akun kesukaanku. Akun itu bernama “sisi timur” dan “kepiting florest”. Dalam akunnya mereka membagikan konten yang keren. Mereka mengexplore keindahan pesona alam timur.
            Seperti sebuah suntikan yang seketika membuatku gila. Pemandangan waerebo dari udara memikat hatiku di detik pertama. Rasanya aku ingin menangis dibuatnya. Jantungku berdegup cepat, mataku mulai berair, darah mudaku bergejolak. “Tuhan aku tak mau pulang”. Bisik bibirku pada udara hampa yang membisu di makan larut. Pada udara yang perlahan membeku dimakan suhu.
            Aku butuh untuk melihat, menginjakan kaki, meraba dengan kedua tanganku pada tempat-tempat ajaib di negeriku yang katanya kaya raya. Yang katanya penuh dengan sejuta pesona, yang katanya perumpamaan surga yang di jatuhkan ke dunia.
            Percakapan sore ini tentang mengajar dan membagi pengetahuan berkecamuk di kepalau. Menyatu dengan idealisme dan ego mudaku. Sarjana muda dari fakultas keguruan ini tidak ingin terjebak dalam bisnis pendidikan. Namun ia pun tak bisa memungkiri realiat kenyataan bahswa untuk bertahan di kehipan ini dibutuhkan materi. Apa lagi yang bisa kujual selain keterampilan mengajar yang dapat di pastikan berujung pada bisnis pendidikan. Setiap kali aku bangun dan pergi untuk mengajar, di kepalaku pasti ada pundi-pundi rupiah yang ku kalkulasikan utnuk kekayaan. Niatku sudah pasti akan berubah haluan, bukan berbagi, menolong, melainkan mencari segenggam rupiah. Dan aku akan bertemu dengan anak-anak yang pergi kesekolah hanya karena bagi mereka sekolah adalah sebuah tradisi, hanya sekedar pulang dan pergi seperti layaknya anak seumuran mereka. Tidak ada rasa tanggung jawab, tidak ada rasa ingin tahu, apalagi rasa butuh untuk masadepan. Uang yang orang tua mereka keluarkan untuk pendidikan tidak lah berarti bagi mereka. Tidak ada rasa tanggung jawab sama sekali. Aku tidak ingin mengajari orang yang tidak membutuhkan. Aku juga tidak ingin berada diantara orang-orang yang tidak membutuhkanku meskipun mereka mengakui kemampuanku. Aku ingin di anggap ada dan dibutuhkan.
            Jejak rekam keluargaku yang berasal dari keluarga berpendidikan, rata-rata dari kami mengecam pendidikan tinggi, hingga salah satunya mampu mendirikan sebuah yayasan dan sekolah. Keluarga yang lainnya akan berada disana secara turun-temurun dipilihnya untuk menjadi bagian, dan aku adalah salahsatu pilihannya. Dan sebagian yang lainnya menjadi guru yang katanya “mengabdi pada negeri” dengan menjadi guru pegawai negeri sipil (PNS). Profesi-profesi itu cukup menjamin perekonomian keluarga, tidak terkecuali ayahku. Karena tidak dapat dipungkiri dari sanalah aku pun bisa mengecap pendidikan tinggi seperti sekarang ini.
            Memang kala logika bisa memadamkan rasa di hati. Banyak yang ku dapatkan dari ayahku. Di hidup terpisah dari keluarganya yang berkecukupan. Walaupun pekerjaannya sama saja –menjadi guru pns- dan mendapatkan pundi-pundi rupiah dari mengajari orang di tempat formal dan monoton itu. Tapi ada satu hal yang membuat ayahku berbeda. Ia memilih tinggal jauh ke pedalaman rimba bepuluh tahun lalu. Aku masih ingat kala itu hatiku tak ingin terima, dari kota di bawa ke pedalaman desa yang hampir saja kukira hutan belantara. Tangan-tanga kecilku tak terima. Namun, ayahku yang setengah manusia super itu perlahan membuatku mengerti, membuatku memahami apa itu arti berbagi.
            Disela-sela waktu luangnya, ia membawa anak-anak pedalaman yang tidak bisa membaca itu ke rumah. Lantas memintkau turut menjaga salah satunya. Dan betapa senangnya hatiku kala anak pertama yang ayah percayakan padaku akhirnya bisa membaca, menulis, dan menghitung.
            Dari sanalah aku mulai berpikir “ayahku bukan hanya mencari uang”, tapi ia mencari kebahagiaan hati. Kebahagiaan kecil yang diperolehnya dari berbagi. Berbagi ilmu pengetahuan, tidak banyak memang, tapi sangat berarti.
            Sejak saat itu dalam dadaku selalu berkobar sebuah api kecil yang tidak pernah padam. Aku ingin berbagi dengan sesuatu yang bisa kubagi dan tidak akan berkurang seberapa banyakpun aku membaginya.
            Seiring dengan proses pendewasaan diri, pendidikan tinggi, dan organisasi. Perlahan tapi pasti membentukku menjadi manusia yang sedikit idealis. Semakin kuat dalam benaku bahwa aku ingin hidup dengan berbagi pada orang-orang yang benar-benar bisa menerima apa yang ku beri dengan penuh syukur. Aku ingin terjauh dari bisnis pendidikan yang menyeramkan dalam benaku.
            Aku tidak menyalahkan, sungguh. Bahkan bukankah sudah ku katakana bahwa dari sana pulalah aku bisa mengecap pendidikan tinggi. Tapi bukan itu yang aku mau. Aku ingin berbagi yang sebenar-benarnya berbagi dan diterima dengan penuh syukur oleh yang menerima.
            Aku yang memang selalu memiliki mimpi untuk selalu pergi dari satu tempat ke tempat yang lainya. Mengexplore dan membuktikan dengan mata kepalaku sendiri bahwa apa yang orang sebut surga itu benar nyata. Ingin sekali pergi ke berbagai pelosok di nusantara ini. Menemukan banyak harta karun. Harta karun berupa alam yang begitu indah bagaikan surga. Juga harta berupa permata anak bangsa. Aku ingin turut andil berbakti untuk negeri. Tidak banyak memang, aku ingin berbagi ilmuku yang sedikit ini pada permata permata bangsa, membuat mereka membuka mata dan menyadari bahwa ditangan merekalah kelak bangsaku ini akan di pikulkan. Membantu mereka unatuk memiliki mimpi-mimpi harapan-harapan. Aku ingin turut andil untuk sesama, setanah air, untuk bangsa, untuk ibu pertiwi yang rela mengandung dan membesarkanku.
            Aku mungkin tidak bisa mengubah dunia. Tidak bisa mengoperasikan negara atau menemukan sebuah penemuan canggih. Aku hanya ingin jadi tangan pertama yang terulur sebelum permata-permata itu bersinar di kancah dunia. Terbebas dari keterbelakangan, terbebas dari kebodohan. Alangkah indah dapat menemukan dua harta karun sekaligus dalam setiap perjalanku.
“oh Tuhan, tolong aku”.
“Tolong bisiki ayahku, ibuku, adikku, dan orang-orang yang menyayangiku. Tentang arti hidup bagiku. Bukan berlian, perhiasan mewah, rumah bertingkat, nongkrong di tempat-tempat hitz setiap week end, BUKAN.”
            Aku ingin duduk bercengkrama hangat dengan percakapan yang mendekatkan ditemani secangkir kopi asli kahas nusantara, asli dari negara kita, nikmat dan terjangkau. Aku tidak ingin mati lampu mengusik hatiku, aku tidak ingin signal dan paket data menguasai alam khawatirku. Aku tidak ingin menatap tawa-tawa bahagia dari balik telepon genggam di media social. Aku ingin mendengar suara tawa asli, memandang senyum manis original, percakapan yang tidak usah live streaming.
            Aku kadang muak dengan kota dengan segala glamoritanya. Aku kadang ingin sekali mematahkan lipstick baru yang ku beli. Ingin ku menangis dan berteriak pada uang yang cepat pergi yang seolah merenggut ketenanganku.
            Aku juga ingin berlama-lama memuaskan diri melihat gigi gingsul dari kawan laki-lakiku yang manis. Langsung terlihat di depan mataku. Tidak perlu pakai kamera, tidak perlu pakai effect instastory. Aku ingin mendengarkan cerita tanpa podcast, tanpa youtube vlogger. Tanpa media-media kota, langsung keluar dari bibir manisnya.
“Ah…. Navilah. Idealis sekali hidupmu! Semoga beruntung!!” kata salah satu teman perempuanku malam itu, kala kita berkumpul dan berbincang bersama di Pergola.

Komentar

Postingan Populer