Anak Ayamku



Matamu kian semakin meredup, ditengah halusinasiku.
Entah apa, entah mengapa.
Mataku mulai memerah lantas mengeluarkan darah dan nanah.
Kau kian samar, menjadi samar-samar.
Salahkan bila ku menumbuh harap,
memupuk segenggam bibit yang kutemukan saat bermain pasir-pasiran denganmu kala sore itu.
Meski kini siang terang benderang,
Tidak bisakah kita berkompromi dengan waktu?
Entah engkau yang terlalu santai,
Atau aku yang kian di kejar-kejar pengintai.
Wahai kau, pemilih bahu lebar,
Pemilik peluk hangat, penggenggam sejumput hatiku,
Penguasa detak-detak jantungku.
Aku butuh kabarmu,
Aku butuh cakapmu,
Berikan aku kepastian arah,
Aku takut, kian semakin kalut,
Bagai mana bila hkawatir ini meracuni hatiku?
Hati ini kujaga untukmu
namun kau tak kunjung mengambilnya jua dengan segera.
Wahai kau anak ayamku.
Wahai kau radio kecilku.
Aku rindu..

Komentar

Postingan Populer