Katakan saja "Alay"
Aku menyendat-nyendat perasaanku seperti menutup celah air
yang mengalir di tambakan sawah dengan lumpur. Seberapa kokoh lumpur itu
menutupi celah, air tetap memaksa lewat dengan lembut. Menyerap hingga ke dalam
celah terkecil pori-pori tanah. Dan gilanya sendatan itu selalu menjadi
percuma.
Aku yakin, kau tahu bahwa rumah yang selalu ku
sebut-sebut setiap saat itu adalah tempat diantara kedua tanganmu yang
merentang. Ya nama rumah itu adalah pelukanmu. Aku sungguh ingin menitipkan sejumput
hati diantaranya..
Bukannya aku tidak pernah memikirkan akhir hidup bersama
orang selain denganmu. karena sesulit apapun, sepengap apapun, dan serisau
apapun aku pada pemikiran itu, pada akhirnya kita akan selalu kalah pada takdir
yang telah ditetapkan, takdir adalah hak sepesial milik Tuhan.
Sering bahkan berkali-kali aku mereka ulang sebuah pertemuan
dimana masing-masing dari kita membawa seorang buah hati, lantas berpapasan di
persimpangan jalan, namun kita hanya akan berbagi sepotong senyum dan sapaan
tanpa bisa lagi berbagi peluk tubuhmu dengan leluasa. Kita akan memiliki kehidupan
bahagia masing-masing. Aku dengan tuanku, dan kau dengan puanmu.
Tapi dalam kesesakan pikiran yang berlalu lalang itu
selalu kusisipi doa. “semoga tuhan menghilangkan kerisauan, dan mempersatukan
ia dan diriku sebagai bagian terbaik dalam jalan hidup kami”. Karena aku selalu
percaya tidak ada satu doa pun yang tidak sampai kelangit.
Semoga tulisan-tulisanku bisa sampai padamu sebagai mana
mestinya dalam keabsahan yang sejati suatu hari nanti. Hingga aku tak harus
malu atau merasa bersalah pada kau, diriku atau siapapun karena telah meminjam
dirimu dalam setiap tulisanku yang berubah “kau”.
Suat hari akan kuperlihatkan tulisan ini sambil bermanja
dibahumu, ditemani dua gelas kopi kesukaan kita. Dengan beberapa lagu yang
sama-sama kita suka. Kupersembahkan sore, senja, kopi, lagu-lagu merdu,
tulisan-tulisanku, dan diriku untuk kau miliki hingga akhir hidupmu.
Ku tumpahkan, ku berikan hak kepemilikan aku sekaligus
hatiku hingga tak ada lagi sendat-menyendat. Aku tak perlu pergi jauh
mencari-cari penutup celah yang merembes dari celah-celah pori-poriku untuk
melabukan kasih padamu.
Kau tahu rereumputan yang ku injak saat berdiri dihadapamu
mencemoohku dengan tawa-tawa, berkompromi dengan angin yang berhembus sore itu.
Seolah hatiku akan loncat keluar bila tak kutundukan pandangan. Kadang bahkan
aku merutuki dirimu yang membiarkan kau mendudukan tubuhmu disekelilingku tanpa
jarak. Tak taukah kau akan kerisawanku bila hati ini akan tanpa sadar, tanpa
terkendali berlari padamu. Seperti setiap jari-jariku yang selalu pergi
menyusuri ruas-ruas rambut hitamu tanpa diperintah. Ia bahkan berlama-lama
berada disana.
Aku malu sayang, aku malu. Tolong jangan buat wajahku
lebih merah dari ini. Aku tidak bisa menahanya lagi, aku butuh tempat
bersembunyi. Karena kupikir perasaanku akan diketahui secepatnya.


Komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah berkunjung. Silahkan tinggalkan jejakmu disini.