Cerita di Balik Matahari yang Mati
Hamparan rumput alang-alang yang menghampar luas bagaikan selimut halus yang menutupi hamparan ladang luas.
angin kecil menggelitik setiap ujung-ujung bulu halusnya. membuat air-air di ujuung ya beriak dan berdecit kesal manja teroyak.
gadis kecil dengan baju kuningnya berlari mengejar teman-taman terbangnya yang berwarna kekuningan.
iya berlari dengan tawa riang sambil mengangkat tinggi-tinggi jaring plastik yang ia buat dengan batang kayu kecil yang patah dari dahan sebuah pohon samping rumahnya.
rambut panjang sebahunya ia ikat menyerupai ekor kuda. gigi taring yang copot membuat senyum manisnya tampak lucu.
ia berlarian kesana kemari di awasi sang mentari.
25 tahun kemudian gadis kecil itu kini sedang duduk di teras sebuah kafe, di hadapan leptop merah kesayangannya dan menuliskan kata-kata yang keluar dari imajinasinya. mencoba menghadirkan perasaan yang tergambar dalam bayang di kepalanya.
aroma kopi yang di seduh terlalu manis, hawa panas yang merambat dari mesin leptop, nyanyian burung di sela-sela gesekan bambu hijau di depan matanya. lagu folk yang mengalun indah dari band HI_ini musik kami band lokal kota tercinta TaSikmalaya menemani matanya yang kian di gelayuti sesuatu tak kasat mata agar terlelap di pelukan hari.
kekasihnya kini sudah tak ada lagi, ia melepaskan seseorang yang teramat mencintainya dengan dalih ingin di seriusi. padahal dirinya sendiri tidak seserius itu menjalani hari.
setelah itu ia juga menghapus garis perasaan yang ia telusuri bertahun-tahun pada seorang yang dekat -terlalu dekat- dengannya. ia memutus urat nadi nya di perjalanan ke tiganya. ia mengangkat tangan dan berbelok arah, berharap mampu meyembuhakn segalanya. ia mengajukan perjanjian mati pada sang waktu.
namun bukannya memberikan penawar sakit pada sekaratnya, waktu malah memberinya ramuan lain. ia di hadapkannya pada seorang anak manusia yang berasal dari entah berantah. pulau yang entah apa. sebuah tempat yang tidak pernah selkalipun melintas dalam benaknya.
seorang anak laki-laki berkulit legam, dengan sebelah gingsul di senyumnya.
ia menampakan wajah datar pada pertemuan pertama, berusaha nampak ramah layaknya manusia pada sesama.
dan entah bagai mana si waktu bekerjasama dengan segala tempat, aroma, terik matahari, dingin malam, dan lagu-lagu. mereka berusaha meracuni si gadis kecil hingga tak sadarkan diri.
ia berhasil di taklukan, ia jatuh hati lagi.
ia tak jadi mati, namun dibuatnya seolah menjadi zombi. matanya yang sudah kosong tak terisi itu kian memerah kembali, tangis kembali memeluk malam-malamnya. mata kosong itu kini mulai melengkungkan senyum, dan mengeluarkan air mata lagi. pipi pucat tak berdarah itu kini mulai memerah malu, juga terkadang memerah marah.
hatinya yang hampir di masukan liang lahat itu kini mulai merasa sakit lagi, mulai membenci lagi, mulai memaafkan lagi, mulai penuh khawatir, mulai penuh harapan-harapan, mulai melayangkan doa-doa lagi. hati itu mulai beraktifitas lagi.
pemuda hitam ber gigi gingsul itu mulai menggandeng tangannya pergi ke berbagai tempat. menautkan jari-jemarinya, membuat sepasang tangan bekunya menghangat. dia pun mulai menuntun tangan tangan itu ke tempat-tempat yang tidak pernah ia jamah sebelumnya. ada bahagia dan terkadang takut menyelimuti. tangan dingin tak bergerak itu kini mulai gemetar lagi, memerah, dan menghangat.
namun si waktu belum bisa menyaksikan senyuman asli dari bibir si gadis. ia belum bisa membuat mata pipi dan bibir si gadis berkolaborasi membentuk sesuatu yang sangat indah yang sudah hilang entah kapan.
senyumnya belum sempurna, hatinya belum cukup menghangat. ia masih hanya tersenyum di depan orang, namun membisu di hadapan bayangan dirinya. ia memang jatuh hati lagi pada si gigi gingsul. tapi ia belum jatuh hati lagi pada dirinya sendiri.
ia memberikan kasih sayang, namun kasih itu tidak ia dapatkan untuk dirinya sendiri.
ia masih berdiri di sudut ruangan gelap, menyaksikan cengkrama, menyaksikan tawa, menyaksikan cinta, dari permukaan dirinya.
ia menunggu, masih menunggu.
entah menunggu dia di sentuh kebahagiaan, entah di tarik ke permukaan, atau menunggu kematian.
ah...
bahkan kematian pun tidak berarti kematian.
Tuhan ku.
tolong dia.
November, 21 -2019
angin kecil menggelitik setiap ujung-ujung bulu halusnya. membuat air-air di ujuung ya beriak dan berdecit kesal manja teroyak.
gadis kecil dengan baju kuningnya berlari mengejar teman-taman terbangnya yang berwarna kekuningan.
iya berlari dengan tawa riang sambil mengangkat tinggi-tinggi jaring plastik yang ia buat dengan batang kayu kecil yang patah dari dahan sebuah pohon samping rumahnya.
rambut panjang sebahunya ia ikat menyerupai ekor kuda. gigi taring yang copot membuat senyum manisnya tampak lucu.
ia berlarian kesana kemari di awasi sang mentari.
25 tahun kemudian gadis kecil itu kini sedang duduk di teras sebuah kafe, di hadapan leptop merah kesayangannya dan menuliskan kata-kata yang keluar dari imajinasinya. mencoba menghadirkan perasaan yang tergambar dalam bayang di kepalanya.
aroma kopi yang di seduh terlalu manis, hawa panas yang merambat dari mesin leptop, nyanyian burung di sela-sela gesekan bambu hijau di depan matanya. lagu folk yang mengalun indah dari band HI_ini musik kami band lokal kota tercinta TaSikmalaya menemani matanya yang kian di gelayuti sesuatu tak kasat mata agar terlelap di pelukan hari.
kekasihnya kini sudah tak ada lagi, ia melepaskan seseorang yang teramat mencintainya dengan dalih ingin di seriusi. padahal dirinya sendiri tidak seserius itu menjalani hari.
setelah itu ia juga menghapus garis perasaan yang ia telusuri bertahun-tahun pada seorang yang dekat -terlalu dekat- dengannya. ia memutus urat nadi nya di perjalanan ke tiganya. ia mengangkat tangan dan berbelok arah, berharap mampu meyembuhakn segalanya. ia mengajukan perjanjian mati pada sang waktu.
namun bukannya memberikan penawar sakit pada sekaratnya, waktu malah memberinya ramuan lain. ia di hadapkannya pada seorang anak manusia yang berasal dari entah berantah. pulau yang entah apa. sebuah tempat yang tidak pernah selkalipun melintas dalam benaknya.
seorang anak laki-laki berkulit legam, dengan sebelah gingsul di senyumnya.
ia menampakan wajah datar pada pertemuan pertama, berusaha nampak ramah layaknya manusia pada sesama.
dan entah bagai mana si waktu bekerjasama dengan segala tempat, aroma, terik matahari, dingin malam, dan lagu-lagu. mereka berusaha meracuni si gadis kecil hingga tak sadarkan diri.
ia berhasil di taklukan, ia jatuh hati lagi.
ia tak jadi mati, namun dibuatnya seolah menjadi zombi. matanya yang sudah kosong tak terisi itu kian memerah kembali, tangis kembali memeluk malam-malamnya. mata kosong itu kini mulai melengkungkan senyum, dan mengeluarkan air mata lagi. pipi pucat tak berdarah itu kini mulai memerah malu, juga terkadang memerah marah.
hatinya yang hampir di masukan liang lahat itu kini mulai merasa sakit lagi, mulai membenci lagi, mulai memaafkan lagi, mulai penuh khawatir, mulai penuh harapan-harapan, mulai melayangkan doa-doa lagi. hati itu mulai beraktifitas lagi.
pemuda hitam ber gigi gingsul itu mulai menggandeng tangannya pergi ke berbagai tempat. menautkan jari-jemarinya, membuat sepasang tangan bekunya menghangat. dia pun mulai menuntun tangan tangan itu ke tempat-tempat yang tidak pernah ia jamah sebelumnya. ada bahagia dan terkadang takut menyelimuti. tangan dingin tak bergerak itu kini mulai gemetar lagi, memerah, dan menghangat.
namun si waktu belum bisa menyaksikan senyuman asli dari bibir si gadis. ia belum bisa membuat mata pipi dan bibir si gadis berkolaborasi membentuk sesuatu yang sangat indah yang sudah hilang entah kapan.
senyumnya belum sempurna, hatinya belum cukup menghangat. ia masih hanya tersenyum di depan orang, namun membisu di hadapan bayangan dirinya. ia memang jatuh hati lagi pada si gigi gingsul. tapi ia belum jatuh hati lagi pada dirinya sendiri.
ia memberikan kasih sayang, namun kasih itu tidak ia dapatkan untuk dirinya sendiri.
ia masih berdiri di sudut ruangan gelap, menyaksikan cengkrama, menyaksikan tawa, menyaksikan cinta, dari permukaan dirinya.
ia menunggu, masih menunggu.
entah menunggu dia di sentuh kebahagiaan, entah di tarik ke permukaan, atau menunggu kematian.
ah...
bahkan kematian pun tidak berarti kematian.
Tuhan ku.
tolong dia.
November, 21 -2019

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah berkunjung. Silahkan tinggalkan jejakmu disini.