Diskusi Malam "tentang sebuah kebosanan"

Ada seorang adik kecil yang kutemui beberapa bulan yang lalu, ia berdiskusi denganku pagi ini. Dia bertanya tentang suatu kemungkinan dalam suatu hubungan yang akan di lalui sepasang kekasih yang katanya mungkin bisa membosankan. Bertemankan dan hidup dengan seseorang yang sama seumur hidup dari mulai memjamkan mata di waktu malam, hingga terbangun di pagi hari dalam ikatan pernikahan. Lantas setelahnya ia bertanya padaku bagai mana pandanganku tentang itu?.

Lantas kutanggapi dengan ceramah panjang lebar. Sebagai orang yang jauh lebih dewasa dalam segi usia lantas ingin sedikit ku benarkan cara pemikirannya. Walau bukan berarti aku benar seutuhnya.

Jika kita terfokus hanya pada rutinitasnya maka pasti akan sangat bosan. Jika kita hanya berfokus pada bagai mana memberinya nafkah dengan harta maka pasti akan sangat membosankan. Bila kita hanya terpaku pada betapa menawanya pasangan kita dari tampilan fisik maka sungguh pasti itu akan sangat mengecewakan.

Bila kau memilih menikahinya karena banyaknya kebaikan yang menguntungkan dan membuatmu terpikat maka kau akan merasa sesak dan sungguh menyesal telah menikahinya bila kelak kau temukan banyak kekurangannya, banyak sifat yang baru kau temukan setelah menikah dan kau tidak menyukainya. Dan tanpa kau rencanakan kehidupan bersamanya akan berubah membosankan.

Menurutku kita tidak perlu berfokus pada kelebihan atau kekuranagan. Karena seperti halnya seluruh mahluk di dunia ini kita ataupun dia tidak lah sempurna tanpa cela. Apa yang kita benci bisa jadi sesuatu hal yang amat ia sukai, begitupun sebaliknya.

Jika saja kita berfokus pada saling bemberi tanpa menuntut ingin di beri, maka kita tidak akan ada cukup wantu untuk berpikir betapa membosankannya bertemu manusia yang sama seumur hidup. Kita akan sibuk untuk mempelajari satu sama lain, juga sibuk saling membahagiakan satu sama lain. Hingga kebosanan itu tidak akan terpikirkan sama sekali, atau minimal tidak lagi menjadi suatu masalah di suatu hari.

Karena itulah pentingnya menemukan pasangan yang ketika di pandang akan selalu membuatmu tersenyum, mendengar kata-katanya seperti menemukan sebuah telaga menyegarkan, dan menenangkan. Karenanya kita akan selalu betah berada di sana, dalam lahunanya, dalam pelukannya, dalam perbincangannya. Terlepas cinta itu masih menggebu atau tidak.

Bila kita hanya mengandalkan sebuah cinta, senyawa kimia bernama cinta yang menggebu-gebu itu menurut penelitian hanya bertahan selama dua tahun, kesananya adalah sebuah kasih sayang, keteguhan hati, komitmen bersama, dan simbiosis mutualisme untuk saling bergantung.

Juga bila hanya mengandalkan fisik, fisik akan menua dan hancur dimakan waktu. Maka dari itu, pemilihan orang dari kepribadian, ahlak dan isi kepalanya tidak bisa sepelekan. Harta melimpah akan hilang bila dia tak punya pengetahuan dan kemampuan mengelolanya dengan bijak, cantik dan tampannya akan hancur digerogoti waktu, Famor dan ketenaran akan hilang di ganti oleh orang-orang baru. Tapi kepribadian, ahlak dan isi kepalanya akan selalu membuatmu terkagum-kagum dan menghilangkan pikiran membosankan dalam hidup.

Menurutku, tidak ada yang salah menjadi fans nomor satu dari kekasihmu. Maka  kau akan selalu menghormatinya, mengaguminya dan menyayanginya sepanjang usia masih berlaku dalam raga dan jiwa.

Logikanya bila ingin menemukan yang seperti itu, maka diri kita juga harus berusaha menjadi seperti itu. Bukankah jodoh itu cerminan dari diri kita sendiri?, dia adalah bagian lain dari diri dan jiwa kita. Bahkan bila kau adalah seorang lelaki, sudah jelas bila istrimu kelak terbuat dari bagian tubuhmu yang lain, dari tulang rusukmu sendiri.

Maka seperti kata Jazuli Imam dalam bukunya “Jalan Pulang” mengatakan bahwa kekasihmu itu menunjukan kualitasmu. Dan itu benar adanya.

Dan lagi, pasangan itu bukan harus sama dalam segala hal. Sepertihalnya kata sebuah judul lagu yang mengatakan “Jangan cintai aku apa adanya”. Perbedaan pendapat sesekali di perlukan agar bisa saling mendewasakan, agar masing-masingnya maju kedepan. Agar bisa terus saling belajar bagai mana cara menyelesaikan permasalahan, bagai mana cara menyelaraskan pemikiran dan perbedaan pendapat. Dan saling menghormati satu sama lain.

Dan suatu hari kalian akan melahirkan buah hati yang bijaksana. Karena seorang anak juga adalah refleksi dari ayah ibunya. Dia adalah perwujudan nyata dari penggabungan dua manusia yang berbeda. Peniru yang sesungguhnya. Dia bagaikan bayangan yang terpantul di danau yang berair jernih.

Saranku ~terlebih untuk diriku, dan untuk siapapun~ jangan malas untuk memberi makanan bergizi untuk pemikiran kita, karena dari sanalah sumber "keren" sebenarnya berasal. Bukan cuman makanan fisik, tapi juga makanan jiwa. Maka kita tidak akan berubah menjadi tua dan membosankan. Saling membimbing, saling bergandengan tangan, saling melengkapi, saling menyempurnakan di dalam dunia yang serba tidak sempurna ini.

Tua itu sesuatu yang pasti, tapi jangan lantas menjadi tua dan membosankan diwaktu yang sama.

Komentar

Postingan Populer