Raja Jalanan
Raja Jalanan
Beberapa hari lalu kata itu menjelma nyata dibenakku. Hari itu aku berkunjung pada sebuah kota yang kerap disibukan oleh banyak dari ambisi manusia moderen.
Ya kota besar itu bernama bogor. Hari itu aku hendak menuju Baranangsiang dari Pasar Parung, aku yang kurang tahu tentang lokasi di kota ini lantas bertanya dan beberapa dari mereka menunjukan pada sebuah mini bus bernama "Bus Pusaka" jenis bus 3/4.
Setelah duduk aku hendak mencari tahu berapa tarip yang harus kukeluarkan untuk menuju Baranangsiang dari sana. Satu, dua blog lewat diberanda browser ku, dan kutemukan satu blog yang menceritakan sedikit lebih detile tentang bus ini.
Bus ini dijuluki sebagai raja jalanan di kota Bogor, mirip kopaja di Jakarta. Dari informasi yang kudapat di blog ini aku sedikit agak khawatir karena dia bilang sangat tidak rekomended sekali untuk dijadikan alat transportasi pilihan.
Setelah melaju aku mulai memperhatikan sekeliling dan mencocokan keadaan dengan informasi yang ku peroleh tadi.
Kupikir memang ada beberapa yang sama, tapi ada sebgian lagi yang belum tercantum. Salah satunya seperti supir tua yang mudah tersinggung dan semaunya, berada di lintasan yang bukan miliknya, tarip yang tarik ulur, udara panas menyengat, suara berdecit dari seluruh penjuru bus, kursi-kursi robek, tempat duduk sempit, debu tebal yang melekat di seluruh bagian bus, ngetem lama, warna kaca yang kelabu dan yang paling ku khawatirkan adalah ketika bus ini berbelok kita sungguh seolah-olah akan terjungkal saking miring dan berdecitnya setiap engsel pada bus ini.
Kurasa dapat dipastikan bila BBM naik, sungguh akan sangat mencekik bagi pengoprasi dan penguna angkutan ini.
Terlepas dari itu semua, manusia-manusia penikmat debaran dalam perjalanan seperti aku pasti menyukai bus ini. Terlepas dari segala keburukan, dan kekhawatiran yang didapat, bus ini seolah punya genre tersendiri, membangkitkan adrenalin dan tantangan tersendiri. Dan anehnya bus ini sepusaka namanya "bus pusaka".
Aku jadi teringat bila di kota Bogor ada bus Pusaka, maka Sukabumi punya bus bernama "Langgeng Jaya".
Ia selanggeng namanya ia tetap beroperasi di usianya yang sudah sangat lanjut usia. Ia tetap langgeng di tunggu para pelanggan setianya yang bukan hanya dikalangan tua-tua tapi juga para muda-muda.
Ia tetap langgeng menembus penjuru kota, masuk ke pelosok-pelosok desa.
Bila hujan penumpang kadang turut kehujanan, bila panas sudah pasti para penumpang turut kepanasan pula.
Berdesak-desakan sungguh sesuatu yang sudah sangat biasa. Belum lagi asap roko, asap kendaraan, bau keringat, bau solar dan bensin diracik menjadi satu bau yang tak terdefinisikan.


Komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah berkunjung. Silahkan tinggalkan jejakmu disini.