Patah Hati

ah...
sepertinya memang dari awal aku sudah dicampakan.
hanya saja selalu menolak untuk sadar.

ah...
lagi-lagi aku menggantungkan harapan pada sebuah layangan putus yang terbang membumbung entah kemana.



rasanya dalam benarku saat ini sedang berada dibawah matahari yang teduh di sebuah bukit di daratan terbuka. Sepoi angin mengoyangkan anak-anak rambutku yang kecil, mengibarkan rok kuning yang lebar.

aku tersenyum dibalik topi yang menutupi sebagian wahahku, dengan airmata yang merayap diselasela antara pipi dan hidungku.

ah...
aku patah hati lagi.

ah...
pohonku harus mati lagi
bahkan sebelum ia berbunga.

ku ambil sebilah pisau dapur, dan coba ku tebang pohon yang baru tumbuh di beranda itu.

Komentar

Postingan Populer