Tulisan Tanpa Pemilik


Temukan aku di batas senja, diujung balik sejadahmu sebelah kanan. Palingkan wajahmu padaku, lantas beri aku sebuah senyum dan salam. Lantas akan kucium penuh syukur punggung tanganmu. Seperti apa yang ayahku lakukan pada ibuku bertahun-tahun lalu, lantas mengajariku cara bahagia oleh hal kecil seperti mengecup pipi keduanya dan dihujani ciuman sayang mereka.
Ada kala aku akan duduk dipangkuan ayah dengan bangga karena menang dari ibu. Ayah akan menggendongku di pundaknya hingga seolah tangan-tangn kecilku mampu menggapai cakrawala. Menjangkau daun-daun yang menjulang tinggi dengan bangga. Pundak ayahku adalah gunung paling tinggi di dunia, pesawat yang paling canggih yang mampu menembus angkasa raya. Aku astronot kecil yang sangat suka menaiki puncak-puncak pohon dengan tangan dan kaki kecilu. Planet terjauh bagiku adalah ranting pohon lunak yang terlalu kecil untuk di injak.
Pernah suatu ketika aku tak mampu turun saking tingginya, terlalu khawatir tubuh kecilku akan hancur bila terjatuh. Aku menangis di atas pohon itu, lantas Ibu hanya mentertawakan ku seraya berkata
“makannya gadis kecil ibu ini harus sedikit jadi anak perempuan yang manis tidak sembarang menaiki tiap pohon tinggi”.
Kala itu aku hanya menangis dan mengangguk setuju akan perkataan ibu, namun saat pagi membentang pohon yang membuatku menangis itu kembali ku jelajahi dan berakhir bisa turun dengan selamat.

“aku menang!” bisiku pada batang pohon yang menjulang tinggi sambil menyunggingkan cengiran kuda, bangga.
            Aku bukan anak menderita, aku memang tidak seberuntung orang-orang berada, juga tidak seberuntung orang-orang yang memiliki orangtua yang masih bersama hinga tua. Namun aku anak bahagia, punya masa kecil yang bisa kujelajahi dalam ingatanku tentang betapa bebasnya hidupku, betapa sederhananya pikiranku. Masalahku kala itu hanya memecahkan pertanyaan “bagai mana caranya menyelinap keluar rumah saat waktunya tidur siang dan saat sedang demam untuk menjemput matahari”.
            Ayah Ibu ku mungkin termasuk pasangan yang tidak bisa bertahan hingga berubah jadi kakek nenek bersama. Namun bukan berarti mereka tidak berhasil membentuk keluarga, bukti nyatanya adalah aku dan adiku. Kami punya masakecil yang bahagia. Kami punya cerita yang akan kami bagi dengan bangga. Kami lebih beruntung dari anak-anak yang terlalu cepat dewasa dan tak punya masa kecil.
Bukan dibelikan tumpukan mainan robot-robotan dan boneka yang banyak, dikabulkan segala permohonan, atau pergi pelesir ke berbagai tempat memang. Tapi sebaliknya kami bisa berburu matahari pagi hingga senja tanpa di kekang, kami hanya dibiasakan untuk lari pulang setiap mendengar suara adzar berkumandang, selepasnya kembali melanjutkan membuat kue-kue manis dari tanah dicamppur bata merah. Atau membuat mobil-mobilan dari cangkang jeruk bali, dan berburu bambu kecil untuk perang tembak di madrasah sore hari, pawai obor buatan tangan sendiri.
Sayang maukah kau melengkapi kebahagiaan duniaku. Aku bukan perempuan yang ingin dibelikan emas permata yang akan menyesakan leher, memberatkan daun telinga, tangan serta jari-jariku. Aku hanya butuh senyuman, tutur kata lembut penuh syukur, dan sesekali kecupan. Kau hanya perlu sesekali membantuku atau sekedar memperhatikan dan menemaniku. Dan bila kau butuh bantuanku diranah kewajibanmu, kau tak akan sungkan percaya dan meminta bantuanku, atau hanya untuk sekedar menyediakan dekapan hangat mengisi ulang semangatmu. Kau bisa beristirahat disini kapan pun kau kehendaki.
Saat ini aku belajar memasak, dan belajar menata segala kebutuhan di rumah, belajar berbudi, berprilaku dan bertuturkata baik, menuntut ilmu tinggi bukan untukmu. Percayalah ini untuk mengambil hati ibumu, -perempuan yang paling kau cintai, yang paling harus kau hormati, perempuan nomor satu bagimu-. Agar ibumu bisa percaya bahwa putra tercintanya bisa makan dengan lahap, bisa berpakaian rapi, bisa tidur dengan nyenyak, nyaman dan bahagia. Agar ia bisa percaya padaku bahwa putra kesayangan yang susah payah ia lahirkan ke dunia tidak akan disakiti, tidak akan di hianati dunia. Agar putra berharganya bisa memiliki teman seumur hidupnya, yang akan menemaninya disenang dan sulit, menegarkannya, menguatkannya, memberinya perlindungan, persembunyian, kekuatan, lantas kebangkitan tekad kembali untuk menaklukan hari demi hari hingga akhirnya pindah kealam abadi dengan seyuman.
Sebagai mana persiapanku, tolong siapkan niatmu, tekadmu, dan seluruh dirimu mengambil hati ayahku. Karena ia adalah pusat duniaku, pusat pengaduanku yang lebih available dari call center 24 jam sehari. Laki-laki yang rela punggung tangannya melegam dan berkeriput demi diriku. Laki-laki yang dengan sabar menasihatiku, mendekapku, mencium keningku dan mengirimkan doa-doa terbaik disetiap sujudnya untuk putri tercintanya. Dalam setiap ketikan ini kukirimkan hadiah kecil berupa doa dan terimakasih untuknya. Ia adalah perwujudan nyata dari pahlawan super dalam hidupku.
Ku beri tahu kau sebuah rahasia, ayahku itu dari luar kadang terlihat seperti laki-laki arogan dan keras. Namun sesungguhnya, kau harus tahu dari dia lah aku belajar segenggam keberanian, belajar bangkit dari sebuah keterpurukan dunia, belajar bagai mana menjadi bijaksana, bagai mana menjadi manusia yang tidak menggantung pada orang lain, belajar mengerjakan segalanya sendiri selagi mampu, tidak terintimidasi dan mengintimidasi. Aku tidak diajarkan pandai menyuruh-nyuruh orang, namun diajarkan meminta bantuan.
Bila kau ingin mendekati ibuku, kau harus bersiap mendengarkan segala perbincangannya. Ia perempuan yang suka bercerita, kau akan melihatnya sebagai ibu-ibu cerewet. Namun kau harus tahu darinya lah aku belajar bagai mana beramah tamah, belajar bagai manacara menghibur dan tenggang rasa pada sesama. Belajar mengasihi, belajar bagaimana menggunakan tanganku untuk membelai orang-orang tersayang agar sembuh dari berbagai luka. Darinyalah aku belajar memasak. Ia adalah koki kelas dunia andalaku.
Mereka memang tidak bersama, dan selalu ada perbincangan tidak sedap dari sekelilingku. Jangan dengarakan, jangan percaya pada mereka. Tapi percayalah padaku, mereka tidak mengurangi setitikpun kasihnya padaku, pada adiku, dan kelak padamu yang akan jadi anak lain bagi keduanya.
Tulisan ini kubiarkan menggantung tanpa pemilik untuk saat ini. Namun ini sengaja kupersembahkan untukmu. Kamu yang kelak akan menggandeng tanganku hingga aku berubah jadi nenek yang cantik dan bahagia.

~Nanayi

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Silahkan tinggalkan jejakmu disini.

Postingan Populer