Bibit Dandelion yang Terbang


Sayang, bila aku beranjak pergi membuang diri ke entah berantah akan kah aku di rindukan?
Sayang, aku memupuk suatu harapan yang bahkan tidak pernah engkau berikan. Aku memelihara ketidak pastian yang sudah pasti. Waktuku terjebak diantara sela jari-jemarimu yang saling tertaut, aku terperangkap dalam sapuan lembut tanganmu dipuncak kepalaku. Jatuh hati semudah itu, beranjak dari sana adalah masalah lain yang sulit untuk dideklarasikan.

Seperti yang kau tahu, aku adalah burung yang berkelana dari satu sangkar kesangkar yang lainnya. Aku burung yang tak peduli cuaca, aku burung yang tak terpengaruh arah angin. Mimpiku adalah tak terperangkap dalam sangkar nyentrik yang dipemilik si nona cantik. Aku burung yang melawan.

Tapi, ada satu kala diamana aku singgah tanpa sengaja menjatuhkan hati dan berujung menumbuhkan harapan yang sebelumnya selalu ku jaga dengan pertimbangan.

Kau seperti badai yang datang di hari tenang, menggemuruhkan alam raya. Aku tak sanggup terbang. Untuk pertamakalinya aku takut hilang dan tak ditemukan.

Kau juga laksana pohon rindang yang bergoyang menari indah bersama hembusan angin. Aku yang hendak berteduh meringankan lelah, betah berlama-lama memejamkan mata terbuai mimpi berselimut bayangan teduh wajahmu.

Aku hendak pergi, tapi takut tak kembali. Aku hendak pergi, tapi takut tak kau temukan. Aku hendak pergi, tapi takut kita menjadi asing. Aku hendak pergi, tapi takut kau dipermilik burung lain yang memutuskan menetap di dahanmu. Aku ingin menetap, tapi aku tak tahu dimana letak pusat hatimu?.

Kita jarang sekali saling bercakap, kita lebih sering terjebak dalam hening. Di depanmu tak kutemukan bahan obrolan. Seringkali tampak konyol. Ah sepertinya personal approach tidak bekerja saat bersamamu.

Ingin ku tanyakan, mau kah kau menemukanku? Aku yang hilang di udara membumbung tinggi bersama awan, yang taktahu jalan pulang.

Aku seperti bibit dandelion yang terbang, ia cantik dan sungguh kasihan.

Komentar

Postingan Populer