BUMANTARA KU

Sayang apa yang kau lihat malam ini di ketinggian itu?
Apakah kau sedang menyaksikan gemintang tepat diatas pucuk kepalamu?

Sayang apa yang kau dengarkan malam ini?
Apakah percakapan ramah dengan rekan-rekanmu?
Atau suara retakan dari kayu yang berdansa mesra dengan bara api?
Aku mendengarkan tangisan pulu yang entah karena apa.
Juga Manjakani dengan Sabda Rindunya.
Lalu menulis ini dengan memikirkan kamu, konspirasi, kosa kata, petikan gitar, suara tangis yang sepaket dengan obrolan telepon yang samar.

Aku duduk menulis di sini,
tapi benakku tidak disini.
Ia berdiri di suatu tempat yang entah dimana,
sedang sibuk merasakan segala perasaan.
Menajamkan segala indra di tubuhnya

Oh ya sayang, hati-hati dengan angin malamnya,
aku tidak menitipkan apa-apa padanya.
Maka bila ia datang menya


pa kau harus mengencangkan rapat-rapat jaket penghangat.
Lantas merapatlah sedikit lebih dekat dengan api unggun di hadapanmu.
Kau ingat bukan, kataku semalam?
Menjaga dirimu sebaik mungkin adalah kata lain menjagaku dengan baik.

Sayang, aku rindu udara luar yang mendiningin mengigit pipiku,
Sapuan udara hangat dari rongga dada yang kutiupkan pada telapak tangan.
Aku biasanya sendiri menikmati segalanya dalam bisu.
Bukan sepi, tapi bisu.
Aku lebih memilih bisu, senyum, dan syukur kala seperti itu.
Tapi semoga kelak, waktu seperti itu ingin ku habiskan dengan canda kecil denganmu, dengan pipi merahku, dengan tawa segarku, di hadapan sang arunika.
Wahai kau bumantaraku.
Mari membumi bersamaku,
panjatkan syukur bersama pada sang pencipta.

Komentar

Postingan Populer