Kepala Kecilku
Semakin menua, entah kenapa keinginanku semakin
menyederhana. Kini aku hanya ingin tinggal bersama dengan orang yang ku sayang
dan menyayangiku. Membangun sebuah keluarga kecil tanpa perlu melihat-lihat
kelebihan dan kekuarangan keluarga lain.
Aku hanya ingin bangun dengan sebuah syukur dan sebuah kecupan
sayang di dahiku. Lantas salat subuh berjamaah.
Dan untuk pekerjaan. Aku ingin kita sama-sama membuka
sebuah kedai kopi yang di pasilitasi tempat membaca. Dan mendirikan sebuah
percetakan dan konfeksi yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk
tabungan sekolah si kecil kita nanti.
Kita hanya perlu selalu berbagi sepotong senyum, syukur,
dan kecupan. Tanpa berlebihan. Tidak perlu lagi pergi keliling dunia, atau
pelesir setiap bulannya. Atau memaksakan diri ikut dalam kumpulan ibu-ibu
arisan yang saling memakan bangkai gosipan. Aku hanya ingin menjadi aku,
menjadi diriku. Dan aku ingin membiarkan kau menjadi dirimu, senyaman nyamanya.
Bisa kutemani sampai aku tiada, atau kau yang ditelan
usia. Siapapun yang duluan, kita akan selalu penuh syukur, karena telah
diizinkan saling bergantung bersama. Aku akan kuat untuk menemanimu, dan kau
akan lembut dan sabar untuk menggandengku, menuntunku, dan mengajariku.
Kita tidak perlu mobil berjejer, bagiku kendaraan motor
pribadi kita sudah cukup untuk beromantis-romantis ria bersama. Hujan, panas
bersama. Aku hanya ingin menemanimu dan menjadi nyaman dengan diriku.
Aku bosan menjadi sesuatu yang sama dan berlari
menyamakan langkah dan ciri-ciri dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan
orang lain. Aku ingin jadi cantik di depanmu, karena itu akan membahagiakanku. Bukan
bersolek agar orang lain iri kepadamu, atau agar mata-mata ~yang ingin sekali
ku colok~ memandangku dan bergumam cantik.
Aku hanya ingin peduli pada penilaianmu. Orang yang
menghabiskan sisa hidupnya denganku.
Sayang...
Andainya kau tahu apa yang kian bergejolak dalam hatiku. Seolah
lahang
panas mendidih siap berubah menjadi gula manis. Begitulah aku padamu.
Sayang...
Sekiranya kau paham maksudku. Terkadang.. sungguh
terkadang, aku berharap jadi laki-lakinya dan kau perempuannya. Hingga bisa
segera ku ambil alih tindakan untuk segera bersama.
Namun, sayang. Ya sayang, aku berada pada kenyataan bahwa
disini akulah perempuannya. Aku harus menunggu, menunggu, dan menunggu. Padahal
aku pun tak tahu bagai mana isi kepalamu, atau bahkan isi hatimu. Bisa saja
dalam rencana panjangmu tidak ada aku, namun dengan lancangnya aku memasukanmu
dalam rencana panjangku. Sungguh memalukan bukan?.
Aku malu, sungguh sangat malu. Atas segala apa yang ada
dalam kepala kecilku.
Tapi setidaknya aku berusaha. Setidaknya aku
berencana. Setidaknya aku memang berniat memasukanmu untuk menjadi bagian dalam
hidupku. Tuhan tahu itu. Karena bagiku takdir adalah perwujudan dari usaha yang
kita lakukan.

and My heart feel like December haha keren lanjutkan
BalasHapusBerisik kau Josi
Hapus